• Tuesday, June 21st, 2011

Tentunya kita masih ingat dengan peristiwa gempa bumi dan tsunami yang menimpa beberapa kabupaten di Provinsi Sumatera Barat pada 30 September 2009 yang lalu. Bencana tersebut memakan korban ribuan orang dan merusak sekitar ratusan rumah warga dan juga puluhan gedung.

Sebagai seorang pemimpin daerah, Gubernur Sumatera Barat yang bernama Irwan Prayitno harus memikirkan bagaimana nasib orang-orang yang dipimpinnya. Berbagai cara mungkin telah dilakukannya. Salah satunya adalah dengan meminta bantuan dana dari pemerintah pusat.
Pemerintah telah menyiapkan dana buat penanggulangan bencana alam yang diambil melalui APBN. Sumatera Barat yang kebetulan pada waktu itu tertimpa bencana alam, pemerintah menyiapkan dana sebesar 6,4 Triliun guna melakukan perbaikan-perbaikan setelah terjadinya bencana tersebut.
Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno mengatakan, dana bantuan gempa bumi untuk pembangunan infrastruktur di Sumatra Barat sebesar Rp3 triliun dari Rp6,4 triliun menguap (HILANG TANPA KETAHUAN).
“Awalnya ada dan terdapat dalam APBN untuk dana bantuan kepada Sumbar sebanyak Rp6,4 triliun. Dari Rp6,4 triliun, sekitar Rp3,3 triliun untuk bantuan rumah masyarakat itu sudah turun dan telah disalurkan,” kata Irwan usai bertemu Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman di Gedung Nusantara II DPR RI, Jakarta, Jumat.
Pemerintah daerah Sumatera Barat dikirimkan dana awal sebesar 3 Triliun rupiah yang akan digunakan untuk merenovasi rumah-rumah penduduk dan juga merenovasi gedung-gedung pemerintahan yang rusak akibat bencana tersebut.
Uang sebesar itu, oleh pemerintah daerah Sumatera Barat dibawah kepemimpinan Irwan Prayitno, langsung digunakan untuk memperbaiki rumah warga dan memberikan bantuan kepada warga yang tertimpa bencana. Hasilnya, dalam waktu sekitar tiga bulan, sekitar 154 ribu rumah telah berhasil dibantu oleh pemerintah daerah Sumatera Barat. Berdasarkan kinerja tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan penghargaan kepada Pemerintahan Daerah Sumatera Barat karena merupakan provinsi yang tercepat dalam menyalurkan bantuan terhadap 154 ribu rumah dan memiliki track record terbaik dalam penanggulangan darurat.

Seiring perjalanan waktu, sisa uang dari pemerintah yang berjumlah sekitar 3,4 Triliun rupiah pun tidak turun-turun, padahal masih ada sekitar 50 ribu rumah warga dan puluhan gedung pemerintahan daerah yang masih perlu membutuhkan bantuan. Mungkinkah karena pemerintah melihat bahwa pembangunan pasca bencana alam di Sumatera Barat tergolong baik, sehingga pemerintah tidak mau menurunkan sisa dana tersebut?
Setelah lama menunggu dan tidak ada kepastian, akhirnya sang Gubernur pun bertindak. Beliau mendatangi Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana guna meminta sisa dana bantuan tersebut. Ternyata, BNPB menyarankan kepada Sang Gubernur untuk meminta kepada Menteri Keuangan. Menindaklanjuti saran tersebut, akhirnya Sang Gubernur pun meminta kepada Menteri Keuangan yang waktu itu dijabat oleh Sri Mulyani. Tetapi tidak ada hasil.
Setelah tidak menemui jalan tengah, Sang Gubernur tetap berjuang mencari kepastian dana untuk pembangunan daerahnya pasca terjadinya bencana. Akhirnya, Sang Gubernur pun meminta penjelasan kepada Badan Anggaran DPR. Di badan anggaran DPR tersebut, Sang Gubernur pun mendapatkan informasi bahwa dana tersebut sudah dimasukkan kembali kepada Kementerian Keuangan. Tidak lama berselang, Sang Gubernur mendapatkan surat dari Kementerian PU soal pembangunan gedung-gedung perkantoran diserahkan pada kementerian masing-masing.
Waktu itu, ujarnya, BNPB menyarankan untuk diminta kepada Menteri Keuangan dan dirinya meminta Menkeu (Sri Mulyani ketika itu) dan kemudian ke Dirjen Anggaran serta meminta penjelasan kepada Badan Anggaran DPR. Di Badan Anggaran DPR dikatakan bahwa dana tersebut sudah dimasukkan kembali ke Kemenkeu. Tak lama, datang surat dari Kementerian PU soal pembangunan gedung itu diserahkan pada kementerian masing-masing. (islamedia.web.id)
Mungkin, karena kesal “dipermainkan” seperti itu, akhirnya Sang Gubernur pun mengirimkan surat kepada Presiden SBY. Ternyata, surat tersebut tidak direspon oleh Presiden SBY, melainkan direspon oleh Wakil Presiden. Sang Gubernur pun mendapatkan informasi bahwa ternyata dana tersebut SUDAH TIDAK ADA SAMA SEKALi.
“Akhirnya kami surati Presiden SBY sebanyak dua kali dan direspon oleh Wakil Presiden yang ternyata uangnya SUDAH TIDAK ADA SAMA SEKALI,” kata Irwan.
Sungguh malang nasib Sang Gubernur. Seorang Gubernur pun bisa “dioper sana, dioper sini”. Padahal yang dilakukannya adalah mencari dana guna melakukan renovasi daerah yang dipimpinnya guna perbaikan kembali kondisi rakyat di Sumatera Barat.
Tetapi Sang Gubernur mungkin tidak ingin dikasihani. Hal yang mungkin adalah, beliau bingung dikarenakan uang penanggulangan bencana yang berjumlah 3,4 Triliun bisa hilang begitu saja, padahal telah dianggarkan. Bahkan mungkin saja, Sang Gubernur bertambah bingung ketika Dirjen Anggaran Kementrian Keuangan meminta agar Pemerintah Daerah Sumatera Barat membangun 19 Gedung pemerintahan melalui dana APBD.
“Dirjen Anggaran bilang pakai APBD saja, lalu saya jawab sama saja dengan mati berdiri. Mana ada dana provinsi untuk membangun itu. Sama sekali tidak ada,” ungkap mantan Ketua Komisi VIII DPR itu.
Jika dana APBD Sumatera Barat tahun 2011 yang berjumlah Rp.2.123.681.661.518 tersebut digunakan untuk membangun kembali daerah yang terkena bencana dan juga digunakan ntuk membangun gedung-gedung perkantoran, bagaimana dengan bagian-bagian lain yang juga membutuhkan dana guna dilakukan perbaikan? Sedangkan, dana tersebut telah dialokasikan untuk pembangunan daerah. Oleh karena itu, Sang Gubernur pun meminta semua anggota DPR RI dari Provinsi Sumatera Barat untuk memanggil pihak-pihak yang terkait guna dimintai pertanggungjawaban mengapa dana penanggulangan bencana sebesar 3,4 Triliun tersebut bisa hilang.
“Saya mau konkrit, mohon kiranya kalau tidak ada keberatan, kekuatan kita di parlemen ini memanggil Menteri Keuangan Agus Martowardjojo untuk mengatakan jangan kira Sumbar itu sudah selesai dari penanganan gempa bumi. Masih ada sekitar 50 ribu rumah masyarakat dan 19 gedung Pemerintah Daerah (Pemda) yang masih rata dengan tanah dan pegawai kita semuanya berserakan,” kata Irwan Prayitno.
Jika memang ternyata dana tersebut hilang dikarenakan dibagi-bagi antara sesama pejabat tinggi di Pusat, sungguh tidak ada rasa perikemanusiaan sama sekali. Dana untuk orang-orang terkena musibah kok juga dimakan. Kami berharap agar dana tersebut dikembalikan utuh, agar bisa digunakan dalam membangun kembali Sumatera Barat.
(Tim Pemerhati Penanggulangan Bencana Gempa Sumbar, Oyong H, Ali M,dkk)

• Sunday, July 04th, 2010

Penulis, Peneliti, pengusahaPada bahasan ini kami fokus pada dua buah sample yaitu kaca mata impian dan jam tangan impian. Kedua-keduanya dilengkapi berbagai fitur yang berbasis teknologi canggih, yang pada suatu saat kelak (kira-kira lima, sepuluh atau lima belas tahun yang akan datang) akan menjadi kenyataan. Dalam hal ini kami menyebutnya sebagai the real of dreams. Semua itu akan terwujud berawal dari mimpi.

Hal ini senada dengan apa yang pernah diagung-agungkan oleh Albert Enstein dalam beberapa pidatonya. Enteins berkata, “My Imagination is important than my knowledge.” Lebih dalam lagi, kalimat tersebut lahir dari inspiring sebuah karya besar yang berjudul Anna Karenina, ditulis oleh Leo Tolstoy[1].  Pada kali ini kita tidak akan membahas tentang Enstein, tapi adalah tentang the power of imagination. Semua penemuan yang ada berawal dari imajinasi, sebut saja teori Relativitas Enstein, Radio Marchoni, Pesawat ulang-alik wilburt wright, Bola pijar Thomas Alpha Edison, dan lain-lain.

Hal serupa akan terjadi pula dengan aksesoris impian yang akan kami paparkan berikut ini, yaitu kaca mata impian dan jam tangan impian.

KACA MATA IMPIAN

Bayangkan sebuah kacamata yang sering kita pakai saat bergaya, atau bepergian jauh, atau memang sebagai alat bantu penglihatan bagi yang mengalami sakit mata. Ya persis kacamata biasa.

Kriteria kacamata impian pertama adalah pengaturan pencahayaan. Atau dikenal jga dengan daya akomodasi. Kacamata seperti ini aman, nyaman digunakan oleh para pejalan kaki di gurun atau padang pasir. Intensitas pencahayaan yang besar tidak memberikan efek sakit pada mata. Mata tetap terasa nyaman. Hal itu dikarenakan bagian kaca dari kacamata tersebut dilapisi dengan teknologi elektromagnetik yang didesain khusus, sehingga dapat menstabilkan secara otomatis sesuai kenyamanan mata kita. Namun bagaimana dengan tempat yang gelap? Kacamata ini mampu menghasilkan energy cahaya selama rentang waktu tertentu, sehingga mata dapat melihat dengan normal.

Kriteria kedua adalah kacamata ini dilengkapi dengan fitur audio visual yang terhubung ke line jaringan telekomunikasi, yang berperan sebagai penampil gambar, suara, dan kedua-keduanya. Kinerjanya bersifat wireless (tanpa kabel), dan bisa diakses dimanapun dan kapanpun. Sehingga bukanlah sebuah hal yang mustahil, ketika di WC memungkinkan seseorang bisa menonton TV, dan mendengar radio dengan leluasanya.

Kriteria ketiga adalah kacamata ini dilengkapi dengan fitur ‘distance ability’. Fitur ini memungkinkan kita selaku pengguna kacamata mampu melihat objek dalam jarak diluar batas normal dengan jelas, semisal dalam jarak 1 (satu) kilometer, kita bisa melihat dengan jelas objek yang menjadi sasaran. Disamping itu, fitur ini juga membantu kita dalam mengamati objek yang berukuran mikro, semisal protozoa, atau hewan bersel satu lainnya.

JAM TANGAN IMPIAN

Jam tangan yang dimaksud disini adalah seperti jam tangan yang sering kita pakai sehari-hari, hanya saja yang membedakannya adalah kecanggihan teknologi yang dimiliki oleh jam tangan impian. Seperti apa jam tangan impian tersebut? Hal ini dijelaskan dengan beberapa kriteria berikut.

Pertama, jam tangan ini dilengkapi dengan fitur layar lebar (untuk ukuran jam tangan) yang bisa dilipat, yang terhubung ke line jaringan telekomunikasi. Sehingga jam ini bisa digunakan untuk send/receive message (SMS, MMS), telepon, akses internet. Disamping itu juga dilengkapi dengan fitur MP3/MP4, audio visual (TV) sehingga memungkinkan kita menikmati acara bola sambil tidur-tiduran.

Kedua, jam tangan tersebut juga dilengkapi dengan fitur sensor yang line-nya langsung ke akses jaringan telekomunikasi. Fitur ini membantu kita untuk melacak, mendeteksi suatu objek atau tempat yang kita cari. Melalui tanda-tanda atau command dari jam tangan ini mengarahkan kita tepat pada sasaran yang dituju.

Ketiga, jam tangan ini bisa difungsikan sebagai kamera digital. Dia melakukan fungsi pemotretan, perekaman, dan semua data-data tersebut secara otomatis tersimpan aman pada memori berkapasitas >50G (Lima puluh gigabyte). Hal ini memungkinkan kita dengan mudahnya menyimpan bukti dari berbagai transaksi bisnis, kejadian alam, dan peristiwa lainnya. Saya kira, jam tangan yang berfitur seperti ini akan menjadi rahasia sukses seorang wartawan besar dan intelijen terkenal. Tanpa membuat si objek khawatir, kita bisa membongkar semua rahasianya dengan mengabadikan sebagai bahan bukti. Sebagai catatan harus dimamfaatkan untuk kebaikan, dan kemajuan bangsa.

Keempat, jam tangan ini bisa dimamfaatkan sebagai notebook. Kita dengan leluasa bisa menuliskan hal-hal penting semisal agenda harian, bahan diskusi, bahan pidato, surat-surat perjanjian bisnis, juga artikel-artikel kontemporer. Disamping itu, jam ini bisa pula dimamfaatkan sebagai alarm (pengingat). Semisal agenda meeting bisnis, jam tangan kita akan mengingatkan kita jauh hari sebelum hari H. Tentunya sesuai dengan settingan waktu yang kita inginkan. Bagi kita yang berprofesi sebagai pebisnis, dosen, pejabat kedutaan dan pejabat lainnya tentu sangat terbantu sekali dengan adanya jam tangan secanggih ini. Why ? Sebab dengan ukurannya yang kecil, nyaman digunakan sebagai aksesoris, juga memberikan add value (nilai tambah) yang menjanjikan seperti yang telah dijelaskan diatas.

Demikianlah sekilas tentang aksesoris impian. Impian kita semua. Terakhir, kami dengan bangga mensitir perkataan Prof Ir H Eko Budihardjo, MSc. Pada sebuah kata pengantar yang beliau tuliskan untuk buku ‘menari di atas angin’. Beliau berkata, “Orang yang sukses, yang berhasil dalam kehidupan adalah justru orang yang masih memiliki mimpi-mimpi untuk diraih.” Oleh karena itu, kami berusaha untuk mewujudkan mimpi-mimpi tersebut. Semoga terwujud!


[1] Leo Tolstoy adalah penulis yang dianggap sang Nabi oleh Albert Enstein.

• Sunday, June 06th, 2010
Mahasiswa InformationTechnology (IT) sudah semestinya memiliki sebuah kemampuan khusus dibanding mahasiswa biasa lainnya. Salah satu keunggulan utama yang seharusnya dijagokan adalah kepakaran dalam pemrograman. Ya, tentu tidak berarti harus menguasai semua program komputerisasi yang ada, tapi setidaknya dua atau tiga program unggulan dan kontemporer. Semisal Java, C++, dan Borland Delphi.
Saya kira ketiga program tersebut bukan lagi menjadi hal yang asing bagi seorang engineering atau praktisi keteknikan dewasa ini. Oleh karena itu, bagi yang sudah menguasai teruslah meningkatkan kemampuannya. Semoga bisa berkontribusi untuk negeri tercinta ini. Lebih khusus bagi yang belum mempelajari, tunggu apalagi, sudah saatnya untuk memulai, start action. Belum terlambat bagi yang belum mempelajarinya. Selagi hayat masih di kandung badan kesempatan untuk berkarya, mengabdi, dan berarti bagi bangsa ini selalu terbuka lebar. Oleh karena itu…action-lah, now or never!
—-Selamat berkarya—
• Wednesday, June 02nd, 2010
Ali Margosim

Ali Margosim

Ada pepatah yang berbunyi “sejarah berulang”. Kita sepakat dengan pendapat itu. pada kenyataannya memang seperti itu, peristiwa di zaman dulu kembali terjadi di zaman ini dalam bingkai yang agak berbeda atau bahkan persis sama.  Semisal penderitaan pahit bangsa ini ulah penjajah laknat selama 3,5 abad lebih kembali membayang-bayang di era reformasi ini. bangsa ini sedang dijajah. Kita dalam penjajahan yang halus, tersistematis, dan paling berbahaya.
Kita harus menyadari bahwa budaya kita sedang dijajah. Lihat, generasi muda kita, mereka lebih cenderung dengan budaya kebarat-baratan, dan tak berkeinginan sedikit pun menggali budaya bangsanya sendiri. Semisal budaya melayu, memakai baju kurung yang dalam dan sangat sopan sudah tak lagi terlihat. Bila disinkronkan dengan perkembangan zaman, etika dan estetika yang ingin disampaikan oleh baju kurung itu adalah kesopanan –kebersahajaan dan kepakaian-pakaian berikut ini jadi tontonan keramaian : u can see, tanktop, baju dan celana dedek, dan masih banyak lagi.
Lebih jauh lagi, tak hanya penjajahan budaya, tapi Indonesia juga dijajah dari segi perekonomian, pendidikan, politik, dan yang terparah lagi adalah penjajahan mental.  Mentalitas bangsa kita dewasa ini adalah mental jajahan. Salah satu bukti tak terbantahkan mengenai mental jajahan ini adalah kecenderungan masyarakat Indonesia menjadi pekerja. Kita ingat, mental ini adalah hasil suntikan penjajah Van Den Bosch dan kawan-kawan.
Mengenali sejarah itu sangat penting, lebih penting daripada sekolah. Sebab, orang yang mengenali sejarah maka ia akan mengenali siapa dirinya, siapa Tuhannya, siapa pemimpinnya, bangsanya, tanah airnya. Apalagi orang-orang Indonesia, 3,5 abad bahkan lebih itu bukan waktu yang sebentar merasakan sakitnya dijajah, dijarah, dijera dan diperkosa.
Tidak mengenal sejarah adalah jalan kehancuran. Bila ia sempat menyandang gelar Ph.D. sungguh selama ini ia telah tersesat. Orang-orang seperti ini perlu diingatkan bahwa sejarah adalah kunci utama dari sebuah peradaban. Bila tidak, negeri ini akan habis bahkan satu butir pun akan jadi tak tersisa karena dijual, dirampas (korupsi), atau dibiarkan lenyap.

• Tuesday, May 25th, 2010

calon CEO

Mahasiswa ideal, apaan tuh? Mana ada yang ideal di dunia ini. Itulah kira-kira celoteh banyak mahasiswa ketika ditanya tentang mahasiswa ideal. Sungguh sebuah jawaban yang terlalu pessimistis. Hal ini menunjukkan mentalitas generasi muda kita dewasa ini. Generasi yang terlanjur trauma dengan beratnya jejak-jejak penjajahan kolonial, perekonomian yang kian memburuk dan krisis keteladanan dari generasi tua.

Ideal, idealis adalah predikat mahasiswa seharusnya. Menjadi ideal adalah sebuah pengharapan yang dibaringi tindakan. Menjadi ideal menuju kesempurnaan adalah proses panjang yang harus dilewati, diwujudkan. Terus berusaha, tanpa kenal kata henti adalah menjadi kata kuncinya.

mahasiswa

mahasiswa

Kalau pepatah mengatakan, “No body perfect in the world”. Itu benar adanya karena memang sudah menjadi fitrah bahwa manusia itu ada pada kelemahan atau kekhilafan. Namun hal itu bukanlah berarti pasrah begitu saja, stop action? No. Sebuah hal yang ideal, untuk mencapainya butuh proses yang panjang, yang tak kenal lelah, yang terus melaju-fokus pada hasil akhir. Proses adalah segala-galanya bukan hasil. Proseslah yang menjadi parameter kesuksesan hakiki bagi seorang yang mengaku idealis.

Sebagai seorang yang mengaku bertuhan, kita akan teringat  bahwa Allah melihat pada prosesnya bukan pada hasilnya. Proses yang baik dan benar serta hebat pasti membawa hasil yang baik, sekalipun secara lahiriah terlihat gagal dalam waktu tertentu—tetap saja proses yang baik, benar dan hebat itu penuh keberkahan. Keberkahan-kebarkahan itu semisal kesabaran yang patut dicontoh, kejujuran yang layak ditiru, kerja keras yang mesti dicontoh, kebahagiaan hati, dan ketenangan orang-orang sekeliling kita.

Proses yang baik, benar dan hebat itu cepat atau lambat pasti memberikan hasil yang mengagumkan. Ingat rumus berikut ini, keberuntungan adalah kesiapan yang bertemu dengan kesempatan. Kesiapan butuh proses yang panjang. Nah, orang yang berproses sebenarnya tinggal menunggu waktu suksesnya.

Kembali ke ideal atau sempurna. Pada seorang mahasiswa, ia akan dikatakan mahasiswa mendekati ideal, bila :

  1. Mengenali sejarah bangsa hingga dirinya sendiri.
  2. Jujur dalam menilai diri sendiri, dan berlaku jujur pada yang lain.
  3. Berjiwa sosial, atau anti individualistik.
  4. Beretos kerja yang tinggi (kerja ‘keras & cerdas’)
  5. Berakhlak terpuji.

Itulah kiranya beberapa kriteria mahasiswa ideal yang dibutuhkan bangsa ini kedepannya. Bangsa ini tidak membutuhkan orang cerdas tapi cerdas pula mengibuli. Negeri ini sudah kapok dengan orang-orang pintar namun pintar pula mengelabui bangsanya sendiri. Negara ini tidak butuh orang-orang bergelar tinggi tapi kalau perilakunya lebih rendah dan hina daripada tikus ( hobi merampok uang rakyat alias korupsi. Catatan : gelar tambahan mereka setelah doctor adalah koruptor!)

koruptor

koruptor

Bangsa ini merindukan keberadaan generasi yang minimal memiliki lima (5) criteria diatas. Dengan demikian terciptalah apa yang menjadi impian negeri kita selama ini. yakni, terwujudnya Negara yang aman dan makmur di bawah lindungan-Nya. (Ditulis oleh Ali Margosim, untuk sebuah perubahan)

• Thursday, May 20th, 2010

Pria takut salah masuk bidang usaha, perempuan takut salah memilih suami

pengusaha

pengusaha

Alkisah ada seorang pria muda yang sangat menyukai seorang gadis yang cantik. Dia sudah lama ingin mengutarakan cintanya kepada gadis tersebut, tetapi selalu urung dilakukan. Mengapa? Sebagaimana layaknya bunga yang indah banyak kumbang yang menghampiri, Si gadis cantik itu penggemarnya seabrek-abreg.

Kemudian, pria kasmaran (tapi berhati tikus ini), mencari akal bagaimana  caranya agar si gadis itu tahu bahwa  dia menyukainya—berpikir dan terus berpikir. Akhirnya, dia menemukan sebuah ide jitu. Dia menulis surat cinta untuk si gadis, dimasukkan ke amplop merah muda, lalu menemui sahabatnya.

“wahai teman, sebagai sahabat sepermainan dari kecil, bolehkah aku meminta tolong kepadamu. Sampaikan surat cinta ini kepada gadis pujaanku.”

Si sahabat—karena ingin menolong temannya—mengiyakan dan mengatakan, bahwa besok dia akan menyampaikan surat tersebut kepada sang gadis.

Malam harinya si pria kasmaran kembali berpikir,”Wah, bagaimana kalau aku ditolak, jangan-jangan memberikan surat cinta malah akan membuatku terlihat seperti seorang pengecut. Bagaimana kalau dia tidak suka dengan kata-kata yang kutulis atau malah menertawakannya. Mungkin malah surat itu akan disebar-sebarkan untuk dibaca oleh teman-teman sang gadis dan aku akan jadi bahan tertawaan seisi desa.”

Dengan hati kecut, sang cowok tergopoh-gopoh menemui temannya di malam hari dan mengatakan agar dibatalkan memberikan surat itu kepada sang gadis. Temannya berkata,”Ya sudah kalau kau tidak berani, ini suratmu aku simpan, kalau-kalau engkau berubah pikiran.” Demikianlah akhirnya pengiriman surat itu pun tidak pernah terjadi.

Keesokan harinya, si pria malang itu pun berubah pikiran kembali. kalau tidak melalui surat , bagaimana ia bisa mengutarakan isi hatinya kepada si gadis? Kembali ia menemui temannya untuk memintanya mengantarkan surat tersebut, dan kembali si teman menyanggupi. Malam harinya terulang  lagi kejadian seperti malam sebelumnya, hatinya ciut, dan si cowok plin-plan lagi-lagi menemui si teman untuk membatalkan.

Kejadian itu berulang beberapa kali sampai lewat berbulan-bulan. Akhirnya, si pria harus pindah ke kota lain untuk bekerja dan belum juga sekalipun ia berkesempatan mengutarakan cintanya kepada sang gadis.

Beberapa tahun berlalu, si pria akhirnya pulang ke desanya setelah bekerja di kota. Selama di kota, tidak sehari pun dia bisa melupakan gadis tersebut. Kerinduannya yang mendalam akhirnya tidak tertahankan lagi, dan dia memutuskan untuk berani menyatakan cintanya kali ini. ditolak ya sudah! Disbanding stress terus-menerus.

Dengan membernaikan diri, didatanginya sang gadis di rumahnya. Singkat kata pertemuan pun terjadi, dan dengan suara mantap dia memandang mata sang perempuan sambil berkata,”Aku sebenarnya sudah lama menyukaimu.”

Apa yang terjadi, si gadis hanya tersenyum dan berkata,” Sebenarnya dulu aku juga lumayan terkesan kepadamu, tetapi apa daya engkau tidak pernah menyapaku barang sekali. Sekarang aku baru menikah.”

Hancur lebur perasaan si pria, dia menghela nafas panjang dan kemudian bertanya, “Siapa pria yang beruntung itu?”

Si gadis menjawab, “Dia temanmu. Dia tahun lalu menyatakan cintanya kepadaku, dan akhirnya kami menjadi dekat. Bulan lalu kami menikah.”

Moral dari cerita diatas adalah kalau kamu mau dapat sesuatu, anda harus berani memulai! Si pria selalu mengimpikan gadis, maju mundur terus menerus, tetapi tidak pernah berani memulai.  Akhirnya, malah sahabatnya yang mengutarakan cinta, mungkin idenya malah didapatkan dari si pria awalnya.

Sering kali kita banyak menganalisis  sebelum memasuki sebuah bisnis, tetapi tidak juga melangkah karena terlalu banyak perhitungan. Kadang-kadang kita ceritakan rencana yang tak kunjung  kita jalankan kepada teman kita, sampai akhirnya malah teman kita itu yang menjalankan duluan karena terinspirasi dengan cita-cita kita.

Sadarlah, Bung! Success is about action! Dreaming alone, will not take you anywhere. ( sukses adalah tentang tindakan!Bermimpi saja tidak akan membawa anda kemana pun).

Jendela peluang tidak akan ada selamanya.  Pebisnis yang bagus bukan Cuma punya insting peluang yang kuat. Tapi, juga nyali untuk memutuskan sebelum keduluan orang lain.

(Ucapan terimakasih khusus kepada gurus saya, Bapak Salim Kartono—CEO DRTV Group. Beliau adalah pemilik tulisan ini. Thanks, Dad…I hope the god bless you always!)

• Wednesday, May 19th, 2010

Bagi anda yang membutuhkan informasi tentang mesin vacum friying, mengeluhkan permasalahan anda, training, hingga pemesanan mesin vacum friying dengan berbagai spesifikasi, kami siap membantu anda. mulai dari spek 5kg, 10kg, 15kg hingga 30kg, dengan harga amat terjangkau, high quality, bergaransi, dan memberikan training gratis hingga anda ahli dalam mengoperasikannya.mesin penggorengan buah


Disamping mesin vacum friying, kami juga bisa membantu anda dalam pembuatan berbagai mesin yang anda butuhkan baik skala home industry hingga skala industri besar. untuk desain dan model mesin bisa anda rancang sendiri atau berikan masukan ke kami sesuai kebutuhan, maka kami akan membuatkan dengan kualitas terbaik.
untuk info lengkap, hubungi Pak Ali: 0813 9014 9921. Terimakasih!

Category: mesin  | Tags: , , ,  | Comments off
• Wednesday, May 19th, 2010

Mahasiswa sebagai kaum intelektual dan pemain utama sebuah peradaban adalah harapan besar bangsa ini. Satu-satunya aset bangsa yang masih dimiliki oleh masyarakat adalah mahasiswa. Semua gebrakan mahasiswa, baik dalam bidang sosial politik, ekonomi, budaya, bahkan pertahanan dan keamanan adalah kebanggaan tersendiri bagi masyarakat kita. Mahasiswa memiliki bargaining position teristimewa di hati sanubari mereka. Sejarah mencatat, prestasi yang telah mereka ukir itu telah dinampakkannya melalui dua peran, yakni mahasiswa sebagai iron stock dan agent of change. Kredibilitas moral telah ia tunjukkan dengan idealisme kental yang mereka miliki. Kredibilitas intelektual, mereka usung sungguh-sungguh sebagai a Mastering the Knowledge. Dalam hal kredibilitas sosial politik, mereka telah memposisikan diri sebagai a Leadership dan Pergerakan Kemahasiswaan.

Lebih dalam berbicara tentang mahasiswa, tidak akan terlepas dengan peranan penting dari lembaga yang mereka miliki, yang disebut dengan lembaga mahasiswa. Melalui lembaga ini melahirkan sebuah pergerakan yang unity in deversity ( kompak). Sesuai dengan tuntutan kebutuhan, maka lahirlah berbagai lembaga mahasiswa seperti BEM, UKM-UKM, dan Biro-Biro Lainnya.

Sebagai a mastering knowledge, mahasiswa sangat memahami akan sebuah pepatah ini, ”Long life education”. Mahasiswa dituntut untuk proaktif dalam belajar, menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dan mengembangkannya. Dari sinilah akan lahir sebuah fakta, bahwa mahasiswa itu adalah manusia pembelajar. Sebagai pembelajar, adalah riset ladang utamanya.

Masih terngiang di telinga penulis, ketika Undip mengadakan seminar nasional yang dimotori oleh FST ( Forum Studi Teknik), tanggal 07 oktober 2006, yang berjudul,”Membentuk Paradigma dan Mental Mahasiswa Menuju Universitas Berbasis Riset”, Dr. Taufiqurrahman, ketua Umum ASASI, mengatakan bahwa salah satu tantangan Universitas dewasa ini adalah Research University. Beliau menambahkan, mau tidak mau bila Undip ingin berkiprah di kancah Internasional, maka harus menyulap diri menjadi research University.

Pada seminar yang sama, Bapak Prof. Ir. Eko Budihardjo, MSc, saat itu beliau masih rektor Undip, mengatakan bahwa Undip memulai untuk mentransformasi diri dari Universitas kerakyatan menuju universitas riset. Ini adalah moment awal terlemparnya wacana Undip menuju Universitas berbasis riset.

Bila kita bertanya, seperti apa kondisi riset di Indonesia? ”Sebuah lembaga ilmiah Thomson Scientific yang berbasis di Philadelphia, Amerika, secara berkala mengeluarkan data paper ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal internasional. Dari data tersebut didapatkan bahwa jumlah paper ilmiah yang berhasil di publikasikan selama tahun 2004 oleh peneliti di Indonesia (yang berafiliasi dengan lembaga penelitian atau universitas di Indonesia) berjumlah 522 paper ilmiah. Jumlah ini hanya sekitar 1/3 dari paper ilmiah yang hasilkan oleh negara tetangga, Malayisa yang berjumlah 1438.

Di antara negara ASEAN Indonesia menduduki peringkat keempat di bawah Singapore dengan 5781 paper, Thailand yang memiliki 2397 paper dan Malaysia. Sementara jika dibandingkan negara-negara maju di Asia jumlah paper Indonesia jelas sangat tertinggal di mana Jepang memiliki 83484 paper, Cina 57740 paper, Korea 24477 paper, dan India 23336 paper. Jumlah dari Indonesia juga hampir sama dengan paper ilmiah dari Vietnam yang memiliki 453 paper selama tahun 2004 tersebut.” (Refleksi Penelitian di Indonesia, Brian Yuliarto)

Ketinggalan indonesia di bidang riset, bukanlah karena tradisi riset orang indonesia rendah, namum terkendala pada dana. Kesadaran pemerintah akan pentingnya penelitian masih dipertanyakan, sehingga alokasi dana untuk hal ini tidak memadai. Bangsa ini tidak terkendala pada minat penelitian. Bangsa kita lebih unggul dari Negeri Sakura (Jepang). Buktinya: Asian Scholarship Foundation (ASF), di Bangkok, dengan dana Ford Foundation. Memberikan dana penelitian dari seluruh negara Asia, ASF menerima proposal terbanyak dari Indonesia, yakni 60 persen dari total proposal (62) yang diterima untuk kawasan regional Asia Tenggara. Bandingkan dengan Cina yang hanya 23 proposal atau India 12 proposal.( Peneliti Indonesia, Azyumardi Azra )

Belajar dari kenyataan di atas, serta tantangan Undip menuju Universitas Riset, maka lembaga-lembaga mahasiswa yang ada tidak mau lepas tangan. Dari arahan kinerja lembaga-lembaga tersebut melihatkan bahwa terdapat sinergisitas lembaga mahasiswa dalam mendukung program tersebut. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undip, juga memiliki bidang Riset di lembaganya pada kepengurusan tahun ini. Di bidang riset ini, BEM akan mengontrol dan memacu hormon adrenalin lembaga-lembaga di bawahnya dalam kerisetan.

BEM Teknik, pada kepengurusan sekarang tiba-tiba lembaga mahasiswa yang trend ini menghadirkan sebuah kejutan, yaitu Departemen Riset dan Teknologi. Sudah kita saksikan bersama terobosan dari departemen ini. Masih hangat diingatan kita, 9 juni 2007, di Gedung Perpustakaan Daerah Jawa Tengah (PerWil), duet dengan FST, BEM menghadirkan sebuah seminar Technopreneurship. Seminar ini bertemakan,”Kombinasi Teknologi Tepat Guna dalam Dunia Wirausaha Demi Peningkatan Kualitas SDM yang Produktif untuk Bangsa.” Pada seminar ini menghadirkan Ir. Amir Sambodo, Komisaris Utama PT.Krakatau Steel, dan Dr. Muhammad Nur, DEA, Dosen FMIPA sekaligus PR IV Undip. ”Membanggakan sekali. Peserta dari seminar ini melebihi target yang ditetapkan. Kami hanya menargetkan 100 peserta, ternyata, dihadiri oleh 170 peserta dari berbagai universitas di Jawa Tengah. ”ujar Ahmad, panitia seminar.

Forum Studi Teknik, lebih dikenal mahasiswa dengan FST.  Forum yang baru berumur setahun jagung ini, lahir 13 desember 2003. Awalnya, forum ini memfasilitasi mahasiswa berdiskusi secara interdisipliner. Forum ini mereka jadikan sebagai ajang pembahasan soal soal ujian, peningkatan pemahaman materi kuliah sesuai dengan disiplin ilmu mereka masing-masing. Menanggapi rencana Undip menuju Universitas berbasis riset, lembaga mahasiswa yang satu ini secara totalitas mentransformasi diri menjadi lembaga Riset.

”FST kedepannya akan selalu berorientasi pada Riset. Kami memiliki tiga end of mind, yang lebih dikenal dengan 3P, yaitu Pembimbingan, Penelitian, dan Produk. Harapannya, niat kami ini di tanggapi oleh pihak Fakultas dan Universitas.” ujar Mas Muttaqin di sela-sela kesibukannya menyelesaikan laporan Kerja Praktek.

FST, lembaga yang bersemayam di fakultas Teknik ini di bimbing oleh beberapa  dosen berpengalaman, di antaranya Munawar, ST,MT ( dosen Teknik Elektro ), Dr.Ir. Abdullah ( Dosen Teknik Kimia ) Widayat,ST, MT ( Dosen Teknik Kimia ), dan lain lain.

Terlihat cukup serius, pada tanggal 9 juni 2007, organisasi yang baru suksesi ini telah mengadakan training pembuatan proposal, dan metodologi penelitian. Banyaknya mahasiswa yang hadir pada saat pelatihan ini menunjukkan bahwa Undip memiliki cikal-bakal peneliti yang bisa dibanggakan. Kehadiran FST, tidak dibiarkan begitu saja oleh BEM Fakultasa Teknik. BEM berkomitmen, akan memberikan berbagai bantuan demi suksesnya Forum ini melenggang ke depannya, terutama dalam hal pencarian sponsor. Mari kita bersama-sama mewujudkan Undip menuju Universitas berbasis riset. (Ditulis oleh Ali margosim chaniago)

Category: Artikel  | Tags: , , , , , ,  | Comments off
• Wednesday, May 19th, 2010

semutBanyak orang ingin sukses tapi tidak semua orang tahu bagaimana caranya untuk sukses yang akhirnya ia tidak pernah sukses-sukses. Banyak orang ingin segera take action untuk sukses, tapi hanya sedikit orang tahu bagaimana memulainya, sehingga ia belum juga sukses-sukses. Banyak orang sangat mengagumi orang-orang besar, orang-orang kaya, orang orang terkenal, tapi ia lupa untuk belajar dari mereka yang ia kagumi itu. Sehingga ia tidak pernah belajar untuk mempelajari dirinya, menemukan siapa dirinya, potensi apa yang ia miliki, dan pikiran positif dirinya bahwa ia juga bisa seperti itu. Banyak orang ingin tahu bagaimana ilmunya untuk sukses, tapi tidak semua orang serius mencari tahu ilmunya untuk sukses.

Apa yang dicari oleh jutaan manusia di muka bumi ini dari Nabi Adam as hingga dunia ini kiamat ? Apakah anda ingin sekali untuk tahu? Anda siap untuk tahu? Anda adalah orang yang tepat untuk membaca artikel ini.

Saudaraku, pernahkah kau amati seekor semut sedang menarik sebongkah nasi sampai ia dibantu oleh teman-temannya? Ia begitu gesit, tanpa kenal lelah. Terus mencoba mendorong sebongkah nasi itu yang ukurannya bahkan sepuluh kali ukuran tubuh si semut. Sungguh menakjubkan, luar biasa!! Ternyata semut sangat memahami ayat di bawah ini: {Allah tidak merubah nasib suatu kaum kalau tidak kaum itu sendiri yang merubahnya…} [QS Ar ra’du : 11]

Saudaraku, pernahkah kau mendengar cerita bagaimana semut mengalahkan gajah bahkan membunuhnya hanya dalam hitungan menit? Cerita ini, cerita yang sangat menginspirasi saya ketika di Sekolah Dasar. Saya yang sebelumnya tidak mau berbagi kue dengan teman, saking pelitnya, akhirnya berubah total. Ceritanya begini :

Di sore hari, pada sebuah negeri tak bernama. Seekor semut duduk bersandar di atas batu. Ia menatap ke bawah, dari kejauhan dengan ketinggian yang tak bisa ia kira seketika itu, terlihatlah negerinya yang begitu indah. Sang semut menamakan dengan Kampung Damai Indosemut. Si Semut tersenyum lepas seraya berdoa : ”Jayalah kau kampungku, damailah kau negeriku, sentosalah negeriku, lahirlah putra-putri bermoral sebanyak-banyaknya!..” Ia terhentak.

Lantungan kaki yang keras, menggema, seolah-olah bumi sekitarnya bergoyang. Si

Semut membalikkan badannya. Matanya terbelalak.

”Hei Si kerdil malang, sedang apa kau disini?” Tanya gajah dengan angkuhnya.

”Saya sedang melakukan perjalanan pulang sehabis dari barat daya.”

”Apa urusan kau?” Tanya gajah lagi dengan angkuh tak berkurang.

”Mencari tahu sumber makanan yang melimpah.”

”Apakah kau hanya sendiri?”

”Ya, untuk arah sini memang saya sendiri. Dan, para jenderal yang lain ada yang ke

timur, utara, selatan, tenggara dan barat laut.

”Wow…, hehehe.” Dengan nada sinis, Si Gajah melanjutkan pembicaraannya.     ”Untuk apa kau bersusah payah untuk negeri yang hanya seluas onggokan tahi saya itu ? Apakah kau tidak ada pekerjaan sama sekali?” Ejek Sang Gajah.

”Tak peduli seluas dan sehebat apapun orang lain. Negeri kami adalah harga diri kami, harga diri saya.’

”Ha..ha…ha. Seberapa berhargakah negerimu itu?” Tanya gajah yang tak berkurang

angkuhnya itu.

”NYAWA KAMI.”

”Wow…. Tahukah kamu bahwa saya sangat benci dengan semut??”

”Tidak. Yang kami tahu kau selalu membunuh ratusan anak-anak kami di jalan-jalan, di rumah-rumah mereka, di tempat permainan mereka hampir tiap harinya dengan kaki lebarmu itu di berbagai negeri kami. Selama ini kami bersabar, karena kami menyadari bahwa kami sangat kecil.”

”Lalu, apa yang kau banggakan?” Tanya gajah kian brutal.

”Jumlah kami yang banyak. Tiap harinya, lahir jutaan putra-putri kami jutaan ekor.

Dan, kami kompak.” Jawab semut terlihat senang.

”Hah, besok pagi kau akan amati bahwa seluruh negerimu akan lenyap!”

”Boleh, asalkan kau langkahi dulu mayatku!!!” Teriak semut itu keras.

Gajah mengangkat kakinya hendak menginjak Si Semut jenderal itu. Tiba-tiba,

”Membunuhmu tak berarti apa-apa.”

”Dasar pengecut. Kau hanya tumpukan daging yang pengecut.” Teriak semut itu

mengamati gajah yang meninggalkannya dengan cekikikan.

”Saksikanlah besok pagi, hei makhluk tak beruntung.”

”Langkahi dulu mayatku…. langkahi dulu mayatku…. langkahi dulu mayatku…. langkahi dulu mayatku…., langkahi dulu mayatku.”

Besok paginya…

Jutaan tentara semut telah ambil posisi. Ada yang bersiap di pintu gerbang negerinya, bersembunyi dibalik daun berketinggian satu meter, satu setengah meter yang menargetkan telinga lebar Si raksasa, ribuan di atas menara yang siap syahid dengan melompat dengan target hidung dan mata Si raksasa, dan ratusan ranjau berupa parit berlubang. Kabar terakhir : Gajah terkapar tak berdaya di Kampung Damai Indosemut, hingga menghembuskan nafasnya yang terakhir. Dari telinganya yang lebar itu keluar ratusan semut. Dari hidungnya semut keluar seraya meneriakkan takbir kemenangan.

”Hidup Jenderal!” teriak rakyatnya.

”Damailah negeriku, sentosalah rakyatku!!!” doa sang jenderal.(ditulis oleh Ali Margosim)

Category: Artikel  | Tags: , , , , ,  | Comments off
• Wednesday, May 19th, 2010
ali margosim

pengusaha

Satu hal yang terlupakan oleh bangsa ini setelah setengah abad mencicipi kemerdekaan dari bangsa kolonial adalah menumbuhkembangkan jiwa bisnis. Atau lebih populernya dengan sebutan jiwa entrepreneur. Saya agak khawatir juga apakah benar bangsa ini lupa atau jangan-jangan sengaja melupakannya. Padahal, jiwa entrepreneur merupakan kunci kejayaan suatu bangsa yang ingin menjadi bangsa makmur dan sejahtera.

Keterkaitannya dengan Indonesia adalah bahwa bangsa kita memiliki sebuah impian besar dan mulia, yang kesemua itu termaktub dalam visi bangsa ini. Bahasa sederhananya adalah arahan mau dibawa kemana bangsa ini kedepannya. Arahan bangsa ini kedepannya adalah menuju Indonesia yang makmur, aman, adil, dan sejahtera.  Bertolak dari hal tersebut kian meyakinkan kita bahwa bangsa ini butuh cara untuk menjadi makmur dan sejahtera. Hanya ada satu jawaban untuk permasalahan tersebut yakni building business soul.

Business soul perlu dimiliki oleh siapa saja dengan latar belakang bagaimana pun.  Mereka bisa seorang guru, dosen, karyawan, satpam, polisi, birokrat, dan rakyat jelata sekalipun. Sebab jiwa bisnis akan membuat orang tersebut lebih cermat—penuh perhitungan dalam menanggapi berbagai tantangan hidup, berkarya, berinovasi, dan bertindak dalam hidupnya. Mereka yang berjiwa bisnis merasa sangat bodoh ketika memulai aktivitas apa saja tanpa perhitungan  yang matang.

Orang yang berjiwa bisnis tidak mesti berprofesi sebagai pebisnis, pedagang, pengusaha, saudagar, atau apalagi istilah lainnya. Bisa jadi mereka yang berjiwa bisnis, benar-benar berprofesi sebagai seoarang businessman. Itu sangat tepat sekali. Tapi, yang berprofesi non business berjiwa bisnis adalah sebuah kemutlakan.

Permasalahan

Sebuah polemik besar dewasa ini yang menjadi gurita bagi bangsa ini adalah miskinnya business soul pada masyarakat kita. Mulai dari masyarakat kelas bawah, menengah, dan atas. Pada masyarakat kelas bawah kita melihat, banyak para petani tidak mampu menjual hasil panennya dengan baik. Umumnya mereka selalu diperas oleh para tengkulak. Sementara kelas menengah dan atas, mulai dari pejabat kelas teri hingga kelas kakap banyak terlibat ke dalam kasus penyelewengan tugas alias korupsi. Ini adalah bukti konkret bahwa business soul harus dimiliki oleh siapa saja.

Setiap orang ingin kaya, tapi tidak semua orang berhak untuk kaya. Perlu kita bertanya, mengapa demikian? Karena tidak semua orang siap untuk kaya. Buktinya adalah hanya sedikit orang yang memiliki business soul dalam hidupnya. Namun yang merajalela di tengah masyarakat kita saat ini adalah jiwa-jiwa pengemis. Terima ataupun tidak, mental seperti inilah yang kian menyuburkan korupsi di negeri ini. Waspadailah!!!(Dikutip dari www.radjakeripik.com, yang ditulis oleh Ali Margosim Chaniago)

Improve the web with Nofollow Reciprocity.